Tiap-tiap yang bernyawa pasti akan mati….
Yah, sebuah kepastian yang tidak ada satu orang pun yang meragukan. Pasti akan datang dan mengakhiri satu babak kita di dunia. Meskipun tak pernah ada satupun orang yang tahu kapan kah kematian datang menjemput mereka. Datang dengan tiba-tiba. Tanpa diminta, tanpa diduga. Tak bisa sedikit pun kita mengulur waktu. Pun tak bisa kita mempercepat datangnya bila memang belum waktunya.
Yang sakit belum tentu duluan mati, yang sehat juga bukan jaminan belakangan matinya. Yang tua belum tentu duluan, yang muda juga belum tentu belakangan. Satu kata untuk semua itu “ TAKDIR “. Jauh sebelum kita hadir di dunia ini, segala sesuatu tentang kita telah tertuliskan. Rizki, jodoh, mati, semua telah tertulis….
Tapi kadang kita lupa dengan semua itu. Ada sebagian orang yang bergaya hidup sepertinya mereka nggak bakalan mati. Belum saatnya kita mati, wong kita masih muda kog. Emang siapa yang jamin kalo orang muda nggak bisa mati duluan? Menjalani hidup dengan semaunya. Seakan-akan ajal masih lama menjemputnya.
Seperti apa yang terjadi hari ini, pelajaran hikmah tentang hidup. Di dalam tangis itu ada hikmah. Pfufh…..
Malam yang melelahkan setelah seharian bekerja. Nggak tau kenapa, tapi badan rasanya “ enak “ banget. Mungkin karena kebanyakan naik motor, kena angin tiap hari, belum lagi panas dan debu di jakarta. Ramuan lengakap yang sangat tidak enak buat badan. Jam dinding menunjukkan setengah delapan kurang lima. Enak banget nih baut tidur awal. Tapi aku belum sholat isya. Dewo sama tuti juga belum pulang. Dewo masih sibuk ngeprint skripsinya yang belum kelar-kelar juga. Sementara tuti cuma nemenin dewo sambil ngobrol kesana kemari.
Tapi sepertinya setelah mereka pulang pun belum bisa tidur lbh awal. Soalnya barusan Dewo bilang kalau ibu elsi minta tolong buat dianterin laptop kerumahnya. Buat pelatihan besok pagi jam 7 pagi katanya. Jadi mau nggak mau malem ini laptop sudah harus dianter. JJM-an lah, alias jalan-jalan malam. Hehehe. Jadi nanti rute nya, ambil laptop dulu kerumah tuti , trus jalan ke rumah ibu bwt nganterin laptop, trus pulang dah. Istirahat yang nyenyak.
Jam sembilan malam saya jalan ke rumah tuti. Karena laptop tuti baru ada jam sembilan malam. Nggak tahu bwt apa, bwt kerja kali. Udara malem lumayan dingin. Mending naek motornya pelan-pelan aja. Jadi hawa dingin ini tidak membuat badan menjadi terlalu beku. Seperti pepatah inggris yang bilang “alon-alon waton kelakon “. Jalan sudah lumayan sepi, orang-orang yang tadi seharian bekerja, lalu lalang di jalan yang saya lewati ini untuk berangkat dan pulang kerja sudah mulai larut dengan tidur mereka ataupun dalam riuh tawa keluarga mereka masing-masing. Melepas penat seharian bekerja.
Butuh satu jam perjalanan untuk sampai rumah ibu. Padahal tidak begitu jauh. Biasanya juga cuma setengah jam. Cuma karena tadi naiknya “alon-alon waton kelakon” jadinya waktu perjanalan juga menjadi dua kali lipat dari biasanya.
Ibu tinggal di perumahan, yang pastinya jam segini itu (jam sepuluh malem-red), portal-portal sudah ditutup. Lagian sebenernya nggak enak juga bertamu jam sepuluh malem. Biarin dah. Keadaan disko darurat gini.
Tapi ibu sepertinya sudah tidur. Lampu depan sudah mati semua kog. Nggak ada suara orang ngobrol juga di dalem. Aku langsung sms ibu.
“ Bu, saya sudah di depan rumah “
Perlahan aku dengar orang buka kunci dari dalem. Ibu sepertinya baru bangun. Kecapekan sepertinya.
“ Kamu udah lama har? ”.
“ Belum kok bu.”
Tak lama setelah saya masuk rumah ibu, ada sms masuk lagi. Ternyata si Donce yang sms.
” Bro, ibu nya mb’ nurul meninggal “
Inalillahiwainailaihirajiun. Baru aja tadi ngobrol sama Tuti tentang mbak Nurul. Sepertinya berat cobaan yang dijalani mbak Nurul saat ini. Mana bapaknya lagi sakit. Udah gitu Ibunya yang tiap hari nungguin ikut sakit juga. Belum ditambah lagi anaknya juga lagi sakit. Berat cobaan hidupnya.Tidak disangka ternyata kalau ibunya justru yang duluan diambil sama Alloh. semoga khusnul khotimah. Amin ya robbal alamin..
Yah sperti itulah hidup. Tidak tahu kapan ajal datang menjemput kita. Malaikat maut mengintai dan kita sama sekali tidak tahu. Saya kemarin befikirnya, yang sakit pan duluan bapaknya. Kalau di pikir2, kalau pakai rumus, kalau pakai itungan matematika, kalau ini, kalau itu dan kalau yang lain nya begitu banyak deh, kagak bakalan nyambung cing. Tapi memang Alloh punya kehendak -Nya. Tidak saya sangka sama sekali. Memang kalau ngikutin nalar kita mah kagak bakalan nyambung. Ilmu kita itu terlalu cetek buat ngikutin ilmunya Alloh.
Kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Selalu lakukan yang terbaik untuk kehidupan yang abadi. Meski saya sendiri belum menjadi orang yang baik, tapi pengen menjadi orang yang baik dan berusaha untuk menjadi orang yang baik. Mari kita semua saling mendoakan. Semoga kita menjadi orang yang mendapat ridho-Nya. Dan kelak berkesudahan khusnul khotimah. Amin ya robbal alamin…